Mobil buatan siswa-siswi SMK Indonesia


HASIL KARYA ANAK NEGERI (RI)

Saat pejabat negara berganti mobil dinas biasanya yang muncul adalah celaan. Betapa anggaran negara dihambur-hamburkan demi kendaraan yang lebih mendukung gengsi daripada fungsi. Tetapi, Wali Kota Solo Djoko Widodo membuat gebrakan dengan memilih produk lokal untuk jadi mobil dinasnya yang baru. Mobil jenis sport utility vehicle (SUV) bermerek Kiat Esemka ini dibuat oleh siswa-siswa SMK dengan bekerjasama bersama pemilik bengkel Kiat, Sukiyat, seorang pria yang tidak lulus STM di Klaten.

Aksi Jokowi menggunakan mobil seharga Rp 95 juta ini kemudian malah bergulir menjadi sesuatu yang politis. Dari Gubernur Jawa Tengah, Wali Kota Semarang, sampai Gubernur Jawa Timur ikut mengomentari langkah wali kota populer tersebut. Ada yang menyarankan agar Jokowi “jangan narsis”, ada juga yang menyayangkan kenapa Jokowi menggunakan mobil yang surat-suratnya belum lengkap dan belum memenuhi standar keamanan, atau menyebut langkah Jokowi lebih cocok menjadi tagline kampanye.

Terlepas dari perdebatan politik soal motivasi Jokowi, yang seharusnya menjadi sorotan dalam berita ini adalah adanya sekumpulan anak-anak SMK, dengan bantuan sebuah bengkel mobil, telah berhasil merakit sebuah mobil. Inovasi teknologi jarang menjadi prioritas di Indonesia. Sehingga langkah Jokowi seharusnya dilihat sebagai upaya merangsang munculnya inovasi-inovasi teknologi lain itu.

Indonesia biasanya tidak dikenal karena keberpihakannya pada inovasi teknologi dan penelitian. Ketergantungan kita pada sumber daya alam terlalu besar. Indonesia pun terlena, tak mengembangkan sektor pendidikan dan teknologinya.

Padahal, jika kita membandingkan dengan Korea Selatan yang baru merdeka pada 1948, inovasi teknologi adalah kunci kebangkitan mereka sebagai suatu negara karena mereka tak kaya sumber daya alam seperti Indonesia.

Sementara di Indonesia, proyek mobil nasional Timor yang pernah dimiliki Indonesia justru menjadi akal-akalan impor mobil KIA dan sebuah skema pengurangan pajak. Indonesia pun sempat memiliki industri pesawat terbang nasional yang kini dibiarkan mati. Inovasi teknologi lain, bahan bakar blue energy yang berbahan dasar air, juga tidak jelas dasar ilmiah dan pengembangannya.

Bahkan, ‘penemu’ blue energy Djoko Suprapto sempat dilaporkan ke Polda Daerah Istimewa Yogyakarta oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta atas dugaan penipuan sebesar Rp 1,5 miliar untuk proyek pembangkit listrik Jodipati dan energi alternatif Banyugeni.

Rendahnya anggaran riset penelitian menyebabkan banyak peneliti Indonesia yang lebih memilih untuk bekerja di luar negeri. Alhasil, inovasi-inovasi penelitian yang berhasil mereka temukan tidak terjadi di Indonesia.

Meski begitu, kisah Jokowi dan mobil Esemka membuktikan bahwa tanpa dukungan pemerintah pun, inovasi sudah terjadi di tingkat masyarakat. Ada orang-orang yang, meski tanpa kualifikasi pendidikan ‘awam’ seperti Sukiyat, memiliki kreativitas, mimpi besar, dan kemudian bisa mewujudkannya.

Kami yakin, Sukiyat dan murid-murid SMK pembuat mobil Esemka bukanlah satu-satunya. Ada banyak orang-orang lain yang berusaha mengembangkan inovasi dan teknologi, melakukan berbagai eksperimen ilmiah, dengan caranya sendiri, baik dalam tugas sekolah ataupun secara pribadi. Kami juga percaya, pendidikan, inovasi-inovasi teknologi, serta inisiatif masyarakat adalah cara untuk membangkitkan Indonesia. Dan jangan sekadar menyandarkan diri pada kekayaan alam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s